Sabtu, 06 Agustus 2016
mata kata
0
komentar
yang membuatmu terus hidup adalah rasa rindu juga takutmu
aku mengingatmu dengan rasa setakut ini
sebab tak ada celah bagi kita untuk bersatu
pun itu dalam sebuah rindu
seperti pohon yang kesepian ditengah gurun pasir
menjulang kelangit mengharapkan hujan
Akan tetapi yang didapatinya hanyalah badai pasir
sepanjang hari, bulan, bahkan tahunan
namun ia terus tumbuh, dengan rasa takut dan rindu yang terus mengukuh
hingga daunnya kerontang, dahannya merapuh, akarnya melemah
dan tak tak ada selain rindu yang buatnya terus tumbuh
juga rasa takut yang menjadikannya akrab dengan maut
Agust2016
sebab tak ada celah bagi kita untuk bersatu
pun itu dalam sebuah rindu
seperti pohon yang kesepian ditengah gurun pasir
menjulang kelangit mengharapkan hujan
Akan tetapi yang didapatinya hanyalah badai pasir
sepanjang hari, bulan, bahkan tahunan
namun ia terus tumbuh, dengan rasa takut dan rindu yang terus mengukuh
hingga daunnya kerontang, dahannya merapuh, akarnya melemah
dan tak tak ada selain rindu yang buatnya terus tumbuh
juga rasa takut yang menjadikannya akrab dengan maut
Agust2016
dari segala apa yang paling ku khawatirkan
adalah tak lagi mampu terbangun saat lelap menyergap
sebab ada jutaan sesal yang selalu saja menjejal
hingga di ujung malam yang paling khusyuk
hanya mendapati diri yang masih saja sendiri
hingga hampir lupa bagaimana rasanya nyenyak, sebab terhenyak lebih banyak terhabiskan oleh almanak
jika saja bisa menyebrangi malam mungkin kelam tak akan larut dalam benam
jika saja tahu esok akan lebih baik, menjemput subuh mungkin akan lebih menarik
seperti yang sudah-sudah, tak ada pilihan lain selain menunggu, sebab subuh tak mungkin datang lebih awal
menjemputnya hanyalah hanyalah jalan lain untuk tidak lagi merasa menunggu
ode sendranto
derai sore
menggenangi tawa dan tangis
usai lara yang tertinggal waktu
kini tawa menggema di dinding-dinding papan
kita terbuai manis kopi dan asap tembakau
sementara kau menelan pahitnya bara hingga meneteskan embun di matamu
di sini senang dan sedih hampir samar dalam kabut
(setelah sekian lama baru sempat ke blog ini lagi, entah kapan tulisan ini saya buat, hanya tersimpan di draft tanpa sempat terposting...)
menggenangi tawa dan tangis
usai lara yang tertinggal waktu
kini tawa menggema di dinding-dinding papan
kita terbuai manis kopi dan asap tembakau
sementara kau menelan pahitnya bara hingga meneteskan embun di matamu
di sini senang dan sedih hampir samar dalam kabut
(setelah sekian lama baru sempat ke blog ini lagi, entah kapan tulisan ini saya buat, hanya tersimpan di draft tanpa sempat terposting...)
seharian tadi cuma melihat lima bendera merah putih
satu, bendera lusuh di sebuah rumah yang tampak tak terawat
dan empatnya lagi berupa sisa miniatur dalam kotak dagangan di lampu merah
selebihnya tak ada yang melekat di ingat
kemana yang lain...
tak lagi meriah kah merah mu
atau putih mu telah habis mengafani kelusuhan negeri ini
atau mungkin merah dan putihmu telah habis terjual oleh bangsamu sendiri
yang sibuk menggadaikan jiwa demi perut dan nafsu
ah, sudahlah...
bisa jadi aku terlewat saat sua
atau kita telah lupa rasa
ketika merah menjadi marah
dan putih menjadi sedih
Langganan:
Postingan (Atom)






- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact