Kamis, 07 Januari 2010

GERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARI






GERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARIGERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARIGERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARIGERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARIGERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARIGERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARIGERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARIGERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARI
..sejarah kota kendari bermula di sana...


Kota Lama Kendari adalah salah satu peninggalan bersejarah dalam kehidupan masyarakat kota kendari. Kenangan dan Nostalgia penuh di dalamnya.

Sejarah Singkat Kota Kendari
Penemu, penulis dan pembuat peta pertama tentang Kendari adalah Vosmaer (berkebangsaan Belanda) tahun 1831. Pada tanggal 9 Mei 1832 Vosmaer membangun istana raja Suku Tolaki bernama TEBAU NUNGGU, Laika Meita (rumah tinggi) disekitar pelabuhan Kendari, dan setiap tanggal 9 Mei pada waktu itu dan sekarang dirayakan sebagai hari jadi Kota Kendari.

Pada zaman kolonial Belanda Kendari adalah Ibukota Kewedanan dan Ibukota Onder Afdeling Laiwoi. Kota Kendari pertama kali tumbuh sebagai Ibukota Kecamatan, dan selanjutnya berkembang menjadi Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, dengan perkembangannya sebagai daerah permukiman, pusat perdagangan dan pelabuhan laut antar pulau. Luas kota pada saat itu ± 31.400 km².

Dengan terbitnya Perpu Nomor 2 Tahun 1964 Jo. Undang–Undang Nomor 13 Tahun 1964, Kota Kendari ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara yang terdiri dari 2 (dua) wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Kendari dan Kecamatan Mandonga dengan luas Wilayah +/- 75,76 Km².

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1978, Kendari menjadi Kota Administratif yang meliputi tiga wilayah kecamatan yakni Kecamatan Kendari, Mandonga dan Poasia dengan 26 kelurahan dan luas wilayah +/- 18.790 Ha. Mengingat pertumbuhan dan perkembangan Kota Kendari, maka dengan keluarnya Undang–Undang Nomor 6 Tahun 1995 Kota Kendari ditetapkan menjadi Kota Madya Daerah Tingkat II Kendari, dengan luas wilayah mengalami perubahan menjadi 295,89 Km².

wikipedia.com


Beberapa tanggapan :


Arif Relano Oba menulis pada 17 Desember 2009 jam 23:53

menurut saya, sepakat atau tidak sepakat terhadap jembatan yang konon katanya akan dibuat di kota lama BUKAN berarti kita tidak berbuat apa-apa. gerakan ini lahir dari kepedulian bersama terhadap kondisi kota lama saat ini dan keberlangsungannya nanti. saya berkeyakinan bahwa kita semua bergabung dalam grup ini juga dilandasi oleh keprihatinan yang sama.

sejak awal wacana ini digagas, dimaksudkan untuk "memotret" dan merekam kota lama sejujur dan sejernih mungkin untuk kemudian disampaikan ke publik sebagai bahan renungan bersama, sebagai sapaan kepedulian kita terhadap hal2 yang mungkin memiliki nilai kesejarahan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

kami menyadari, bahwa jika wacana kota lama kita angkat, maka selain menjadi ajang nostalgia juga akan bersinggungan dengan isu pembangunan jembatan dan soal2 lainnya menyangkut pembangunan kawasan tersebut, yang tentu saja akan mengerucut pada pilihan setuju atau tidak setuju. Yang menjadi kekhawatiran adalah jangan sampai kita cuma berputar-putar pada persoalan setuju atau tidak setuju, tanpa ada aksi nyata yang kita lakukan.

Pertanyaannya setelah itu adalah, apa yang dapat kita lakukan?

ada banyak masukan yang ditawarkan teman2 dalam beberapa kesempatan, diantaranya adalah membuat heritage list dikawasan tsb, mengkaji nilai2 kesejarahan, menjadikan gedung kendari teater sebagai gedung pertunjukan seni budaya, pendokumentasian dalam bentuk film, buku dan lain sebagainya, yang jika diwujudkan memerlukan beragam keahlian dan profesi dalam pengerjaannya.

pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang paling mungkin kita lakukan saat ini?

tentu saja jika ingin mewujudkan semua masukan di atas, dibutuhkan energi yang sangat besar. peranan pemerintah juga sangatlah vital, utamanya berhubungan dengan penetapan heritage list maupun pengalihfungsian gedung dikawasan tersebut. sehingga, dengan sumber daya yang ada saat ini, teman2 pekerja kesenian yang aktif dalam gerakan ini memilih untuk fokus pada PENDOKUMENTASIAN KOTA LAMA dalam berbagai MEDIA KESENIAN (sastra, musik, teater, rupa, fotografi dan film, termasuk pembuatan buku didalamnya).

hal ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi rekan-rekan yang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda untuk juga ikut memberikan sumbangan (tentu saja dalam bentuk yang berbeda, sesuai latar belakang masing2 individu) bagi kelestarian kota lama kendari.

demikian adanya, wassalam.


Tulisan ali suwarno

Sebagai generasi yang lahir tahun 70-an (kelihatan mi tua nya xixixixi), terus terang Kota Lama tidak bisa saya hilangkan dari memori saya. Saya ingat betul setiap hari minggu setelah berwisata di kassilampe (maya ria sekarang), biasanya kami sekeluarga singgah di toko HAWAII untuk makan bakso dan es krim. Di kota lama pula tempatnya toko mainan yang paling lengkap saat itu (toko pojokan, kami memanggilnya begitu, the best in town lah..), dan toko MAWAR, tempat saya dulu membeli komik TRIGAN, dan tentu saja buku buku pelajaran sekolah. Di situ pula ada Kendari Theater, tempat saya menonton film Arie Hanggara, yang direcommended untuk ditonton para guru-guru sekolah saat itu (hehehe) dan film PINOKIO versi Indonesia.
Dengan alasan-alasan di atas, tentu saja saya sangat tertarik jika ada gerakan yang concern (caelah...) terhadap pelestarian Kota Lama, dan mungkin saya bisa memberikan sedikit informasi mengenai itu.
Prinsipnya yang termasuk dalam kategori heritage adalah segala hal yang mengandung nilai-nilai sosial, spiritual, estetika, sejarah, maupun yang mencerminkan perkembangan ilmu pengetahuan di suatu daerah, yang penting untuk dilestarikan bagi generasi dahulu, kini dan selanjutnya. Biasanya semua itu terekam dalam bentuk fisik: dari bangunan hingga kain tenunan, setting daerah yang dibicarakan dalam dokumen kuno, fungsinya, atau didalam ingatan (memori kolektif - seperti yg telah disebutkan Arif) serta asosiasi mengenai tempat (misalnya: kota lama identik dengan bioskop, toko pecinan, dsb).
Yang jadi masalah, yang disebut dengan -historical cultural significance- itu biasanya sangat kompleks, beragam dan penuh konflik antar waktu. Hal ini disebabkan oleh beragamnya budaya, komunitas dan kepentingan yang ada. Contoh, bangunan A mungkin bernilai nostalgia bagi generasi tahun 70-an, tapi tidak untuk generasi 90-an. Bangunan B bernilai estetika tinggi menurut para arsitek, tapi tidak untuk kelompok yang lain. dsb dsb.... See More
Jika berbicara mengenai arsitektur, bangunan yang telah berusia lebih dari 50-tahun otomatis masuk dalam heritage list. Mengapa? karena telah memenuhi salah satu unsur signifikansi di atas, yaitu terkait dengan memori dan asosiasi warga -masa lalu, dan kini serta yang akan datang- mengenai suatu tempat, bernilai sejarah,serta nilai2 lain yang mungkin dimilikinya. Misalnya, salah satu contoh lain yang bernilai sejarah yang mungkin berpotensi untuk masuk dalam heritage list untuk kategori ini misalnya rumah kediaman gubernur pertama SULTRA (saya ndak tau apa ini rumah masih ada atau tidak..).
Menurut saya, heritage list ini harus disusun oleh pihak yang berkompeten, baik itu para sejarawan, arsitek, tokoh-tokoh pemuka masyarakat, dll. Selanjutnya, paling tidak list ini harus mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Daerah. Mengapa demikian? Sebab eksistensi bangunan2 heritage ini harus dilindungi dengan PERDA.
fiewh... saya kira sudah sangat bagus sekali jika telah mencapai tahapan ini, dimana heritage list untuk Kota Kendari, paling tidak, telah terbentuk. TANTANGAN terberat yang SEBENARNYA akan dihadapi adalah setelah bangunan2 tersebut dilindungi. APA yang akan dilakukan dengan bangunan2 itu? di preservasi kah? rehabilitasi? revitalisasi? siapa yang akan melakukan? dari mana dana nya (dananya akan sangat mahal dibanding jika bangunan tersebut dihancurkan untuk dibuat bangunan baru di atasnya) ? apakah ada pihak-pihak ketiga yang tertarik untuk melakukannya hanya dengan alasan "memori dan sejarah"? dan jika akan dilakukan metode adaptive re-use seperti yang teman-teman usulkan, bagaimana kira-kira skema nya? akan dijadikan museum kah? restoran kah? Bagaimana menari minat investor untuk memanfaatkan bangunan tersebut? pemanfaat gedung akan dibebaskan dari pajak, misalnya? lalu bagaimana daya dukung lingkungan sekitarnya? juga perlu untuk ditata bukan?
Ok boss, saya kira demikian comment saya kali ini, hehehe. Semua ini keluar dari lubuk hati yang paling dalam, dilandasi perhatian saya terhadap kota lama, serta tidak ada maksud menggurui sedikitpun. Semoga gerakan ini bisa menjadi cikal bakal terbentuknya lembaga heritage di Kota Kendari.
Wass.

Usal dari sdr syaifudin gani

bgmana jika grup ini menerbitkan buku ttg kota lama

Irianto Ibrahim /13 Desember 2009
Rencana Pembangunan Jembatan Penyeberangan:
Tera incognita atau Syarat Mutlak Perubahan?

Tanggapan :La Ode Gusman Nasiru

Selasa, 8 Desember 2009. Sore di Kemaraya sedang terguyur rintik hujan. Beberapa kali bunyi guntur mengaum entah dari arah mana. Menyusul kilatan petir yang menyilaukan mata, membuat bergidik setiap yang mendengar. Agak ragu saya memaksakan diri berjalan menuju jalan poros, menunggu seorang teman yang telah bersepakat bersama-sama berangkat ke lokasi penelitian jurnalistik kami. Ternyata, di kompleks RRI, tempat teman saya, Rizki, tinggal sedang hujan deras sehingga saya harus berangkat terlebih dahulu agar dapat memanfaatkan sisa siang yang tinggal sebentar lagi. Pada akhirnya, kami berangkat sendiri-sendiri sesaat setelah berjanji bertemu di Pelabuhan Sanggula.
Kawasan kota lama kelihatan lebih cerah daripada Kemaraya, terlebih bila dibandingkan dengan kawasan RRI. Beberapa buruh sedang memikul barang di punggung mereka dari mobil truk menuju kapal-kapal kecil yang akan berangkat ke Sulawesi Selatan. Beberapa diantaranya tengah sibuk menutup mulut dengan kain, menghalangi debu semen yang beterbangan. Ada pula yang duduk bergerombol sambil mengelap keringat dari leher dan dahi mereka, dan terlibat perbincangan seru yang tidak dapat saya simak.
Satu dua calon penumpang sampan yang hendak menyeberang ke daerah Lapulu tampak merapat ke beberapa penjual kaki lima di sekitar pelabuhan. Dua puluh meter ke arah samping kanan tempat saya berdiri, Anda dapat melihat aktifitas yang mirip pengeboran minyak bumi dengan menggunakan alat yang tidak terlalu lengkap seperti pengeboran pada umumnya. Aneh memang, karena para pekerja itu melakukannya tidak di tengah lautan yang potensi keberadaan minyaknya lebih melimpah. Sayang, saya tidak dapat mengetahui lebih jauh apa yang sedang orang-orang di depan saya lakukan dengan menggunakan alat yang mirip pengebor minyak bumi itu, karena orang-orang sekitar yang saya konfirmasi tidak dapat memberi penjelasan kepastian mengenai hal tersebut.
Sekitar tujuh sampan sedang merapat di tanggul pelabuhan yang dibuat pada tahun 2006 ini. Ada juga beberapa kapal yang ukurannya sedikit lebih besar dari sampan, dan beratap. Beberapa kapal yang lebih besar dari kapal yang saya sebut akan berlayar ke Sulawesi Selatan itu, berlabuh agak jauh di belakang sampan dan kapal Sulawesi Selatan termaksud. Dengan demikian ada tiga jenis kapal kayu yang saya bedakan berdasarkan ukurannya serta satu kapal besi di ujung pelabuhan yang lebih besar dari ketiga kapal kayu sebelumnya. Seorang papalimbang, orang yang membawa sampan, sedang berdiri di samping saya. Pemuda yang kelihatan ramah itu saya tetapkan sebagai narasumber penelitian untuk bercerita mengenai beberapa daftar pertanyaan di kepala saya.
Namanya Arpa. Usianya sekitar 30-40 tahun. Ia lahir di Lapulu. Ketika mendekat hendak memulai percakapan, ia menyambut kedatangan saya dengan satu bentuk pertanyaan khas pemilik kendaraan umum, “Menyeberang, Pak?” Saya menyambut pertanyaan itu dengan senyum simpul seraya mengatakan saya sedang menunggu teman yang akan menyeberang ke Lapulu bersama. Dalam pembicaraan selanjutnya, tanpa menyebut asal-usulnya, saya menerka bahwa lelaki itu berdarah Bugis atau setidaknya daerah bagian Selatan. Ia mengamini perkiraan saya. Sejak itu pembicaraan semakin terasa akrab. Katanya, semua orang di sekitar tempat tinggalnya di Lapulu berasal dari Selatan. Dalam hal ini Sulawesi Selatan dan sekitarnya.
Pada satu kesempatan, ia berkisah tentang pengalamannya menjadi papalimbang. Suatu malam perahunya terbalik karena tidak memiliki penerang yang dapat menunjukkan keberadaan kapal yang lebih besar di depannya. Sialnya, kapal besar itu pun tidak melengkapi diri dengan cahaya yang cukup. Beruntung, tidak ada penumpang di sampan Arpa, sehingga kecelakaan yang diakibatkan kepanikan lelaki yang telah berkeluarga itu tidak sempat merenggut korban jiwa.
Pernyataan di atas membuat dahi saya berkerut. Betapa besar risiko kecelakaan di tengah laut hanya karena papalimbang tidak memiliki penerangan yang cukup dari perahunya. Padahal, lampu penerang merupakan benda yang semestinya ada pada kendaraan laut yang beroperasi di malam hari.
Saya, pak Arpa, dan teman saya berdiri di tepi pelabuhan. Tepian yang hanya dibatasi pagar besi kuning berkarat yang sudah tidak lengkap bagian-bagiannya. Ujung-ujung besi dibatasi oleh beton biru sebesar dua paha orang dewasa yang catnya telah kusam nyaris memudar. Tingginya seukuran dada saya dengan bentuk segi empat dan lancip di ujungnya. Jalan tempat kami berpijak tidak lebih baik keadaannya dari besi dan tembok pembatas, pecah pada sebagian besar bagiannya. Di hadapan kami juga terpampang pemandangan yang tidak terlalu baik. Lautnya tidak asri, sampan-sampan yang parkir semakin memperburuk pemandangan. Di samping kiri kami, berdiri kokoh bangunan bercat jingga pudar dengan model arsitektur lama. Sejak awal saya mengetahui bahwa bangunan tiga lantai itu adalah panti pijat. Sekadar berasumsi, saya mereka bahwa bangunan tersebut merupakan tempat prostitusi berkedok pijat refleksi. Hal demikian sudah merupakan rahasia umum. Bangunannya jorok. Beberapa jendela tidak berkaca hanya ditempeli papan tripleks yang tidak utuh. Di belakang kami, beberapa ruko berdiri sekenanya. Pemilik tempat tersebut tentu tidak memperhatikan segi kesehatan dan keindahan bila ditinjau dari tata letak bangunannya, sehingga jangan heran jika saya berani mengatakan bahwa kawasan pertokoan itu tidak layak huni. Di depan ruko-ruko berseliweran beberapa mobil, motor, becak, hingga gerobak para pemulung. Kesemua keadaan dan keberadaan di sekitar saya lengkap menampilkan kesan kumuh kawasan pinggiran kota.
Beberapa orang di sekitar kami sibuk dengan urusannya masing-masing. Deru mesin sampan menerobos bunyi angin, pecah di telinga. Kami sempat terlibat perbincangan mengenai mesin-mesin itu. Saya terpaksa mengangguk-angguk dan tersenyum tipis karena sama sekali tidak paham dengan segala jenis, ukuran, ataupun angka dan huruf-huruf yang disebut sebelum atau sesudah nama mesin yang benar-benar aneh untuk ukuran pendengaran saya.
Percakapan mulia terasa hambar. Takut narasumber kami jenuh, saya dan teman saya berinisiatif mengonfirmasi topik utama dalam pertemuan ini. Kami bertanya mengenai rencana pembangunan jembatan dari kota lama sampai daratan Lapulu. Tidak begitu sulit kami menanggapi respon yang telah kami perkirakan sebelumnya. Lelaki yang mengenakan kaos oblong putih itu tidak setuju dengan rencana pemerintah yang tujuannya tidak lain adalah untuk membangun akses transportasi yang aman dan nyaman dari dan menuju ke Lapulu. Alasan yang ia utarakan cukup sederhana, keberadaan jembatan nanti akan merebut lahan mata pencaharian mereka. Jika demikian, mereka harus ‘banting stir’ menjadi nelayan. Tetapi, masalahnya adalah perarian sekitar pelabuhan tidak cukup menjanjikan sebagai lokasi mencari ikan. Tidak banyak ikan yang dapat diperoleh dalam perairan sedangkal itu. Penuturan lelaki itu diamini oleh temannya yang sejak tadi duduk di atas beton pembatas ujung pagar besi.
Beberapa calon penumpang telah berkumpul di pelabuhan. Aturannya, jika sampan tidak dicarter maka calon penumpang harus bersabar menunggu penumpang lain sampai jumlah mereka mencukupi batas maksimal muatan sampan, sekitar tujuh sampai delapan orang. Kami pun turun ke sampan setelah jumlah penumpang cukup untuk berlayar. Sebelum berangkat, kami membayar ongkos sebesar Rp.2000,-. Perjalanan berlangsung lancar. Sinar matahari jingga seperti menarik kami sampai ke tempat tujuan. Lima menit kemudian sampan yang kami tumpangi telah berlabuh di Lapulu. Ini kali pertama saya menginjak kelurahan Lapulu.
Setelah sampai di kelurahan yang masuk dalam kecamatan Abeli itu, kami berjalan keluar dari kawasan pelabuhan. Di bundaran Lapulu kami berbelok ke arah kanan. Karena terkesima dengan keindahan alam sekitar, saya tidak ingat untuk mengambil gambar. Kesempatan yang sia-sia. Teman saya yang lebih tahu seluk-beluk daerah ini menyarankan agar kami menyinggahi pelabuhan transimigran. Ide yang baik. Tetapi, setelah sampai di area yang kami tuju, miris hati saya menyaksikan pemandangan di depan mata. Di kiri-kanan jembatan mata kami ‘dimanjakan’ dengan komplotan sampah yang teronggok bebas di perairan dangkal. Beberapa anak bahkan kelihatan dengan riang berenang di antara sampah. Ingin rasanya saya muntah menyaksikan peristiwa tersebut. Beruntung, kekecewaan saya agak terobati dengan keindahan panorama alam transmigran ketika matahari memerah di penghujung senja yang panjang.
Kami terus melangkah ke ujung jembatan, menghampir tiga orang sedang duduk di san. Satu hal yang kembali membuat saya memberi poin lebih terhadap orang Selatan adalah respon baik dari ketiga orang tersebut dalam menyambut kedatangan saya dan teman saya, keramahannya persis Pak Arpa yang kami temui sebelumnya. Satu dua patah kata kami utarakan. Tanpa menyianyiakan waktu yang sebentar lagi gelap, teman saya langsung memasuki pokok pembicaraan. Tetapi hanya Pak Handoyo yang berusia sekitar setengah abad dan Alim yang bersedia berbicara banyak tentang hal itu. Sementara seorang tua yang juga ada di situ tampak tidak begitu antusias membahas permasalahan yang kami tanyakan. Mendengar pertanyaan kami tentang tanggapan mereka mengenai rencana pembangunan jembatan penyeberangan dari dan ke Lapulu, mereka juga memberi respon yang sama seperti narasumber kami sebelumnya. Alasannya, harus ke mana dan bagaimana lagi mereka menghidupi keluarga jika jembatan penyeberangan jadi terealisasi pembangunannya. Padahal, mata pencaharian mereka satu-satunya adalah menyeberangkan penumpang dari Lapulu ke Kota Lama, juga sebaliknya. Pak Handoyo yang telah tiga puluh tahun menjadi papalimbang merasa lahan pencahariannya direnggut oleh pemerintah. Lagi pula, mereka tidak bisa menjamin apakan pemerintah akan menyediakan lahan pencaharian baru atau memberi mereka ganti rugi yang pasti tidak akan pernah cukup menurut ukuran mereka. Lelaki yang mengenakan baju biru tanpa lengan dengan dua sobekan besar di bagian depannya itu tampak benar-benar menyesali rencana pemerintah. Lelaki yang juga tinggal di kawasan trans itu mengatakan bahwa rencana tersebut hanya akan menguntungkan pedagan-pedagang besar, sementara bagi ‘orang kecil’ hanya akan membawa imbas buruk dalam kehidupan mereka.
Matahari nyaris habis ditelan ufuk barat. Cahayanya emas memantul dari permukaan laut sekitar jembatan. Magrib merangkak perlahan dari kejauhan. Kami menuju salah satu kediaman keluarga teman saya di balik bukit yang cukup curam.
Narasumber kami berikutnya adalah Pak Yusuf yang juga paman teman saya. Beliau seorang guru. Rumahnya menjadi tempat persinggahan kami. Selepas shalat maghrib, lelaki itu menyalami kami. Ada kesan karib dari caranya memperlakukan tamu.
Sengaja kami mewawancarai beliau sebagai penduduk asli daerah Lapulu, untuk mengetahui pandangannya mengenai rencana pembangunan jembatan penyeberangan yang barangkali akan berbeda dari tanggapan para papalimbang.
Dugaan kami tidak meleset. Sebagai penduduk asli beliau setuju dengan rencana pembanguna jembatan. Menurutnya, salah satu manfaat besar besar yang akan dihasilkan sebagai akibat dari pembangunan jembatan penyeberangan adalah akses transportasi. Akses laut dan darat sekarang dirasa masih belum memadai. Jalur laut penuh risiko, apalagi di waktu malam, risiko tabrakan dan terbalik semakin besar. Pemaparan beliau mengingatkan saya pada cerita Pak Arpa yang kami temui di pelabuhan Sanggula. Karena sampannya tidak dilengkapi penerangan yang cukup, akhirnya ia harus rela menjadi korban dalam kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Hal tersebut ternyata menjadi bahan pertimbangan logis dari Pak Yusuf. Sedangkan untuk jalur darat, menurutnya, masih terlalu jauh jaraknya.
“Kalau ada jembatan, kenapa tidak?” tutur lelaki itu dengan dialek Bugisnya yang kental. Berdasarkan pertimbangannya, keberadaan jembatan akan secara langsung memperbaiki kawasan kumuh di pelabuhan Sanggula dan pinggiran laut Lapulu. Selain itu yang terpenting adalah segi keselamatan. Dibandingkan menyeberang dengan sampan yang tidak layak pakai akan lebih baik jika kita menggunakan fasilitas jembatan penyeberangan. Alasan lain yang tidak boleh dilupakan adalah kesan kemajuan yang menjadi tuntutan setiap orang dalam era modernisasi saat ini. Beliau menambahkan bahwa kita tidak boleh statis, hidup pada bayang-bayang masa lalu. Kemajuan memang punya dampak. Tetapi kita tidak boleh menolak untuk maju dan merubah diri ke arah kebaikan.
Barangkali orang akan menyangka bahwa Yusuf dengan enteng berbicara seperti demikian karena dia bukan orang yang akan secara langsung terkena dampak pembangunan jembatan seperti para papalimbang. Tetapi, kalau mau dilihat sejarah kehidupan keluarganya, sesungguhnya Yusuf juga pernah menjadi korban tergusur karena pelebaran jalan dan pembangunan masjid di sekitar situ. Seluruh bagian rumah keluarganya habis tergusur, sehingga kalau mau berbicara kenangan, beliau juga tidak miskin dengan penderitaan yang pernah hidup dalam kenangan kehidupannya. Sebagai orang yang sadar betul akan keharusan perubahan, ia dan keluarganya tidak mempersoalkan benar penggusuran itu, bahkan walau hanya dengan ganti rugi yang sangat jauh dari kata cukup dari pemerintah. Ya, sangat jauh bila ditinjau dari segi finansial, terlebih—jika kita mau berbicara masalah—kenangan dan masa lalu. Tentu ia—seharusnya—lebih merana dibanding para papalimbang yang semuanya hanyalah kaum pendatang.
Satu petikan pembicaraan—dengan perubahan seperlunya—yang saya rasa relevan dan mendukung asumsi Pak Yusuf adalah sebagai berikut:
“Kota lama sebagai situs budaya dan sejarah, tetapi kita perlu pahami sejarah yang asli bukanlah yang itu, karena mereka (para pendiri bangunan tersebut) adalah juga pendatang. Awalnya kota lama hanya di sekitar gunung jati, tidak luas. Jadi jangan terlalu didramatisir jika ada perubahan, karena kita ketahui bahwa semua tempat punya kenangan. Kalau ada gedung bisa diatur (misalnya, dipindahkan). Ada tempat yang memang historis seperti kantor syahbandar, akademi teknik kendari. Sementara yang lain hanya bangunan baru yang (memang) telah lama.”
Menurutnya, kemajuan akan terjadi lebih cepat dengan adanya jembatan penyeberangan. Beliau mencontohkan bagaimana kehidupan pedagang sekitar Anduonohu yang mesti merogoh kocek lebih dalam hanya untuk menyeberangkan dagangan mereka di sungai Kaliwanggu. Setelah ada jembatan, barulah kehidupan mereka membaik. Hal demikian juga diharapkan menjadi keberuntungan bagi para petani dan pedagang di Lapulu Mereka tidak perlu menghabiskan sewa sampan yang lebih besar daripada harga sayur itu sendiri. “Kasihan pedagang itu”, Yusuf menambahkan. Intinya, pemerintah mencarikan pekerjaan lain, jika tidak, mereka bisa berinovasi sendiri. Misalnya, mereka bisa berganti fungsi dari papalimbang menjadi supir angkutan transportasi laut yang menjadi alat berwisata. Tetapi tentu harus ada pembenahan dan perombakan besar-besaran, karena untuk saat ini perahu papalimbang termasuk alat transportasi yang sangat kumuh, apalagi ditambah dengan kerusakan di sana-sini. Yang merasa dirugikan pasti para penumpang.
Masih menurut Yusuf, warga lain juga sebenarnya tidak begitu senang terhadap sepak terjang para papalimbang. Mereka cenderung merasa berkuasa karena penduduk sekitar tidak mempunyai jalan lain yang lebih cepat untuk menyeberang selain dengan menggunakan perahu mereka. Padalah kenyataannya, sampan tersebut banyak yang sudah tidak layak pakai. Bodinya bocor sana-sini, tidak jarang mesinnya rusak. Terkadang setelah penumpang penuh, barulah mesin diperbaiki.
“Zaman berubah, perubahan itu adalah sunatullah” tutur Yusuf mantap. Tentu para korban yang merasa dirugikan atas dampak pembangunan jembatan tersebut akan diberi ganti rugi. Meski menurut korban ganti rugi tidaklah cukup. Tetapi demi kepentingan orang banyak, harus ada yang rela berkorban.
Percakapan malam itu berakhir sebelum azan isya merayapi perkampungan. Sebelum pukul tujuh, kami kembali menumpang perahu. Di malam yang gelap. Tanpa penerang. Kecuali kerlap-kerlip lampu dua daratan di kejauhan. Percakapan terselip rendah di antara deru mesin yang berteriak.
Penelitian kembali saya lanjutkan pada Rabu, 9 Desember 2009. Sore itu saya menuju Pelabuhan Sanggula. Mencari informasi mengenai tanggapan warga sekitar tentang rencana pembangunan jembatan penyeberangan antara Pelabuhan Sanggula dan daratan Lapulu.
Panorama tidak berbeda dengan hari sebelumnya. Delapan sampan sedang berlabuh menunggu penumpang. Beberapa papalimbang dan penjual kaki lima di bawah halte yang telah berubah fungsi tampak sibuk mengurusi berbagai hal. Saya mengambil tempat duduk di samping seorang ibu penjaja rokok dan berbagai jenis makanan ringan. Beliau seorang Muna. Ia mengenakan baju lusuh biru dominasi hijau. Kelihatannya sedang tidak sibuk. Oleh karena itu saya berusaha memancing percakapan. Sayang, saya harus menarik kesimpulan bahwa ia tidak seramah para papalimbang. Upaya pendekatan saya ditanggapai dingin dan sedikit sinis. Barangkali saya yang belum menguasai situasi dan teknik komunikasi dalam memulai pembicaraan dengan orang baru. Tanpa membuang waktu, segera saya ucapakan terimakasih dan melangkah jauh menuju pelabuhan Nusantara.
Sepanjang perjalanan, mata saya awas mengamati ruko-ruko di kiri kanan bahu jalan. Semua atap bangunan tingkat dua tersebut telah berkarat. Warnanya coklat lusuh. Beberapa bahkan melapisi sebagian dinding lantai atas dengan menggunakan seng berkarat. Sisa dindingnya putih kecokelatan, pertanda bahwa catnya tidak pernah diperbaharui. Kesemerawautan ini menggelitik hati saya untuk bertanya “mengapa tidak, jika ada upaya pembangunan jembatan, tentu kawasan ini akan lebih baik dari sebelumnya.”.
Sampai di pelabuhan, lagi-lagi seorang ibu penjaja kaki lima tidak bersedia saya wawancarai. Hal ini jelas tergambar dari sikapnya yang tak acuh terhadap satu dua pertanyaan saya. Agak malu saya berbicara sendiri di samping ibu itu. Dua target hari ini tidak berhasil saya mintai keterangan mengenai topik pembicaraan saya. Setelah membayar harga minuman kemasan kepadanya, kaki saya melangkah cepat menjauh dari lokasi tersebut.
Jalan raya di sekitar pelabuhan cukup padat. Beberapa mobil, motor, bahkan becak, turut meramaikan suasana. Asap knalpot mengotori udara. Saya harus sering menahan napas dan meletakkan telapak tangan di hidung, jika tidak ingin menghirup gas buangan dari kendaraan bermotor. Di samping kiri saya, gelombang-gelombang tipis mempermainkan segala jenis sampah di tepian.
Dua orang papalimbang sedang bersantai di tanggul pinggir pantai. Saya berinisiatif mendekati mereka. Melihat kedatangan saya mereka tersenyum ramah. Ah, apa semua hati papalimbang sedamai itu?
“Sampan itu menyeberang, Pak?” saya membuka percakapan.
“Lapulu?” keduanya serempak menjawab.
Saya tersenyum melihat kedua orang tua itu tersenyum oleh tingkah mereka sendiri.
“Oh, tidak, Pak” Saya menjawab seadanya.
Syukurlah, pembicaraan menjadi akrab karena ‘peristiwa’ kecil tersebut. Tidak terlalu sulit memulai pembicaraan dengan kedua Bugis di hadapan saya ini. Bahkan tanpa saya minta, Pak Yato menceritakan perihal kehidupan keluarganya yang berhasil ia hidupi dari hasil papalimbang. Teman beliau yang belum sempat saya tanya namanya, bergegas berdiri dan menuju sampan untuk mengangkut penumpang yang hendak menyeberang.
Tahun delapan enam pak Yato ke Kendari dan sejak saat itu bekerja sebagai papalimbang untuk menghidupi keluarganya. Beliau asli Selatan dan kini menetap di daerah Talia. Anaknya lima, juga sempat bersekolah dari hasi palimbang. Konon, banyak penduduk sekitar yang sudah ‘menjadi orang’ dari hasil papalimbang. Tentang rencana pembangunan jembatan, beliau tidak begitu banyak tahu. Tetapi, menurutnya jembatan tersebut akan di bangun di sekitar pelabuhan Sanggula. Namun beliau cukup mampu menangkap arah pertanyaan saya. Katanya, kalau memang jembatan penyeberangan benar-benar akan dibangun, ia tidak tahu mau bekerja apa selanjutnya. Karena lahan pekerjaannya tentu akan terkena imbas dari pembangunan. Setelah diam beberapa jenak, beliau menyatakan kebesarhatiannya menerima rencana tersebut, asalkan pemerintah bersedia memberikan mereka lapangan pekerjaan baru.
Percakapan segera berakhir sesaat setelah ia berdiri menyambut lambaian seseorang di tengah lautan. Ia akan menjemput penumpang, katanya. Saya tersenyum seraya memperhatikan langkah mantap Pak Yato menuruni tanggul menuju perahunya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan empat narasumber di sekitar kota lama dan Lapulu, secara prinsipil saya setuju dengan rencana pembangunan jembatan yang oleh sebagain orang dikatakan sebagai satu bentuk tera incognita. Barangkali saya akan lebih sependapat dengan pemaparan dari Pak Yusuf dan harapan Pak Yato. Mereka orang-orang yang siap berkorban demi kemajuan. Kemajuan toh merupakan bagian dari perubahan, dan hanya perubahannlah yang pasti tetap terjadi. Setiap tempat punya kenangan, begitu kata Pak Yusuf, tetapi perubahan demi kemajuan pasti tetap terjadi dan tidak perlu terlalu didramatisir.

2 komentar:

susilo raharjo mengatakan...

Broo, ada projekanku ini. kita mau coba buat film documenter tentang penyelamatan kota lama. kami sudah punya judul, tinggal konsep yang perlu dimatangkan. bisa minta masukkannya ? atau kapan-kapan kita bisa sharing?

Dian Puteri Nurbaity mengatakan...

guys..bisa tlong beri info terkini mengenai pergerakan pemerintah pada kawasan kota lama khususnya pecinan kota kendari? saya dri kendari yg saat ini melanjutkn studi di ITS Surabya, dlam tesis sya mngkat objek penelitian pada kawasan pecinan kota kendari.tlong bantuannya, trimakasih

Posting Komentar

 
;